Begitulah sedikit cuitan yang beberapa waktu terakhir ini masih sayup beredar di beberapa kalangan masyarakat men-soal ihwal pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang menurut –asumsi– mereka, “tak tepat sasaran”.
Adalah sebuah hal klasik, dan sudah bukan rahasia lagi; dalam setiap pembagian bantuan (baik itu yang penentuan nama-nama penerimanya di kuasakan kepada tiyuh ataupun yang langsung dari pusat/Kemensos) selalu saja ada kalimat-kalimat ketidak puasan, pro-kontra alias kontroversi.
Kita percaya, setiap warga berhak untuk bahagia. Tentu saja kami sangat memahami ungkapan ini, terlebih dalam situasi sekarang dimana mayoritas dari kita sedang goyah dihantam pandemi, seharusnya setiap warga memang berhak mendapatkan bantuan.
Akan tetapi tahukan Anda saudaraku, bahwa ketika kami menentukan (walaupun hanya) sebuah nama calon penerima bantuan (dalam hal ini terutama yang berkaitan dengan BLT bersumber dari Dana Desa), itu telah melalui sekian banyak pertimbangan dan proses pembicaraan / musyawarah dan bahkan perdebatan yang alot diantara seluruh aparatur dan tokoh-tokoh masyarakat tiyuh? Selain daripadanya, juga tahukah Anda bahwa kami juga mesti memperhatikan segenap kriteria (syarat ketat) yang ditetapkan pemerintah, keterbatasan dana serta batasan kuota?
Lalu apakah kemudian kami sama sekali tak peduli dengan suara-suara dari dasar?
Tentu tidak begitu. Pasti banyak juga usulan yang masuk menjadi pertimbangan, meski tak semua usulan mampu terserap, karena adalah mustahil bagi pemerintah tiyuh membuat suatu keputusan berdasar pada pendapat begitu banyak orang yang memiliki pemikiran/keinginannya yang bisa saja saling bertentangan.
Bukankah Adil bagi si A belum tentu adil bagi si B, serta begitu sebaliknya, seterusnya?!
Proses menentukan nama calon penerima bantuan ini, sejujurnya bagi kami _segenap aparatur Tiyuh Marga Jaya_ adalah bagian yang tersulit, sebab kami tahu; tepat tidak akan dipuji dan jika meleset pasti akan dimaki.
Eehh… kamu kayak serius amat bacanya.. oke biar agak rileks kita IKLAN dulu saja ya……
Kemudian Ada suara; Seharusnya yang dapat bantuan adalah yang benar-benar butuh/berhak.
Ya, itu idealnya. Namun ditingkat realitas, idealisme itu akan menjadi samar ketika kita menyadari bahwa setiap orang bisa memiliki pandangan / penilaian berbeda terhadap suatu kasus yang bahkan bisa jadi sama persis.
Kami ingin bertindak seadil-adilnya, sungguh sejatinya kami-pun ingin begitu. Namun sulitnya birokrasi, kelemahan, serta segenap ketidak sempurnaan kami sebagai manusia jua yang membatasi.
***
Akhirnya; kepada saudaraku segenap warga, andai kalian masih percaya bahwa masih ada kebaikan juga pada diri kami segenap aparatur tiyuh Marga Jaya, maka teruslah mengawasi, mengkritisi dan mendoakan yang terbaik bagi kami. Namun jika kalian merasa bahwa kami ini hanya pantas dicaci, maka ijinkanlah kami bercerita tentang sebuah Negeri bernama Indonesia yang (konon) dikelola oleh jutaan manusia, didukung oleh berbagai alat negara adi kuasa serta fasilitas dan dana luarbiasa, dipenuhi oleh sekian banyak orang-orang baik dari berbagai agama yang sejatinya ingin sekali bersedekah, dan ketika diantara mereka ada seorang miskin yang tiba-tiba meninggal hanya karena ketiadaan pangan, Lalu bagaimanakah Anda menjelaskannya ??
ditulis oleh Kaspel , link terkait ;
